Surat dari ASMAT

Kabupaten Asmat. Tempat ini adalah bagian dari provinsi Papua yang terbagi menjadi 23 distrik (224 kampung) dan  terhubung oleh ratusan sungai yang seolah berlomba-lomba menyusup ke setiap distrik. Agats adalah distrik utama sekaligus pusat pemerintahan dan pelayanan publik termasuk rumah sakit.

Jadwal yang yang sulit dipastikan,  keterbatasan dalam ketersedian moda transportasi ikut menyumbang persoalan.
Akses dari distrik lainnya menuju Agats ini merupakan tantangan tersendiri. Misalkan saja dari Distrik Suru-suru, akses menggunakan Speed-boat mengandalkan ketinggian air sungai. Bila air sedang surut maka Speed-boat akan sulit melintas, perlu menunggu hingga ketinggian sungai bersahabat.
 
Artinya faktor alam dan cuaca menjadi bagian dari kendala utama aksesibilitas. Kami sulit membayangkan bagaimana tenaga kesehatan harus bertahan pada kondisi seperti itu dengan status kontrak dan gaji minimalis yang tidak sebanding dengan tuntutan tugas dan tantangan sosial - budaya setempat.
Hadirnya tenaga  medis dan tenaga kesehatan ditengah-tengah masyarakat saja sebetulnya sudah merupakan pengabdian dan pengorbanan yang belum tentu semua sanggup menjalankannya.
 
Satu cerita dari distrik Akat bahwa keberadaan koneksi seluler hampir bisa dikatakan tidak ada. Jangan harap kita bisa bersosial-media, untuk mengirim SMS saja penduduk setempat perlu melakukan 'atraksi' di tepi dermaga untuk mendapatkan sinyal yang memadai.
 
Lalu bagaimana dengan sumber air? Hujan tropis menjadi andalan warga dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari yang suatu saat bisa tidak tersedia bila kemarau tiba. Belum ada sumber air  yang bisa diandalkan penyediaannya secara berkesinambungan. Di Distrik Sawa Erma, masyarakat menyediakan tandon air hujan di setiap rumahnya, biasanya hujan turun pada malam hari, saat itulah ketersediaan air bertambah. Konon sempat terjadi kemarau 5 bulan , tanpa hujan, bayangkan apa yang terjadi.
 
Terkait dengan yang diberitakan di media, akar dari permasalahan gizi khususnya anak-anak di Asmat dari salahsatunya adalah kelangkaan pangan di daerah perifer. Kelangkaan ini disebabkan karena kultur pertanian,  perkebunan dan peternakan pada masyarakat masih sangat minim. Segelintir masyarakat pendatang mencoba bercocok tanam dan berternak, tapi mereka selalu dikesalkan dengan pencurian hasil kerja mereka. Ternak hilang dan panen yang lenyap menjadi perusak motivasi kultur kemandirian pangan yang sedang dirintis. Hal tersebut juga berkaitan  dengan pola hidup masyarakat tradisional pemburu-peramu yang cenderung berpindah-pindah untuk mencari sagu, ikan, ayam hutan serta buah-buahan. Mereka memilih tinggal beberapa saat di bivak lalu kembali ke rumah bila diperlukan. Pola seperti inilah yang membuat mereka sulit membangun jaringan komunitas dan sulit terjangkau oleh pelayanan umum.
 
 
Superioritas kaum pria pada masyarakat tradisional sangat kuat sampai-sampai kaum perempuan seringkali dipandang sebagai objek. Kekerasan dalam rumah tangga sudah menjadi hal yang lumrah. Ironisnya perempuan juga diposisikan sebagai pencari nafkah yang wajib menyerahkan upeti kepada sang suami. Sementara sang suami bebas menentukan apa yang mau dia lakukan termasuk pernikahan dini, poligami. Inilah bentuk patriarki yang kebablasan.
 
Soal anak, mereka juga ikut menjadi objek kekerasan. Kekerasan pada anak masih dianggap dalam batas norma sosial masyarakat.  Prioritas pembagian makanan dalam keluarga juga unik, ibu dan anak bukanlah yang utama. Kesenjangan gizi selalu ditemukan pada keluarga yang memiliki anak berstatus gizi buruk.
 
Nampaknya masalah kronis kesehatan ini hanyalah hilir dari seluruh masalah yang ada. Ia menjadi dampak dari kerentanan sosial - budaya - ekonomi masyarakat Asmat. Tentu saja Gizi buruk dan Campak bukan semata-mata masalah kesehatan yang ada, setumpuk persoalan bak piramida di bawahnya sedang antri menunggu untuk masuk Headline berita.
 
 
Mereka menunggu kehadiran negara yang melakukan intervensi secara holistik, bukan sekedar atraksi panggung politik.
 
Seperti kondisi saat lampu lalulintas tidak berfungsi,  semua aspek saling mengunci hingga tidak ada satupun yang teratasi.
 
Perubahan harus dimulai, bukan sekedar diskusi.
 
Rencana aksi tanpa eksekusi hanyalah memperparah situasi.
 
Pancasila merekapun hafal, tapi mengapa kesehatan masih menjadi jalan terjal.
 
----------------------
 
Dr. Putro S. Muhammad

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *